Sekadar melakukan sesuatu yang saya rasa bisa, menuangkan pikiran ke dalam tulisan. Semoga ada manfaatnya, bagi siapa saja.
Sekadar melakukan sesuatu yang saya rasa bisa, menuangkan pikiran ke dalam tulisan. Semoga ada manfaatnya, bagi siapa saja.
Dari pengalaman memalukan GR semasa remaja sampai soal siapa yang pantas memegang amanah: renungan tentang ‘bisa merasa’ dan ‘merasa bisa’.
Maiyah sebagai pembaharuan pemikiran Islam yang sejati — kebun berisi bibit-bibit kebaikan yang ditanam Mbah Nun, dan kini memerlukan para ahli kebun untuk merawatnya.
Diam-diam kita ingin kaya raya sekaligus masuk surga, dan bersedekah dengan harapan balasan berlipat — padahal Tuhan justru melarang memberi karena mengharap lebih.
Sepenggal kisah cinta seorang Penyair Besar Jogja yang layaknya puisi — bahagia hanya dengan membayangkan kekasihnya melintas di bus malam.
Hati perlu digantungkan pada sesuatu agar bahagia — tapi kalau digantungkan pada yang fana, ia akan terhempas; maka gantungkanlah pada buhul tali yang kokoh.
Ketika doa seakan selalu terkabul, jangan buru-buru merasa jadi kekasih Allah — bisa jadi itu doa orang lain, atau justru istidraj.
Dari kisah intervensi Allah di masa para Nabi sampai kondisi negeri yang memprihatinkan hari ini — sebuah doa yang lahir dari frustrasi dan cinta pada bangsa.
Dari kerusakan bumi, ketimpangan, AI, sampai perang — akar semua kerusakan adalah nafsu yang tak dikendalikan, dan puasa sepanjang hidup adalah fondasi perbaikannya.
Memadukan kisah Adam yang diajari nama-nama dengan revolusi kognitif manusia — bagaimana bahasa menjadikan manusia khalifah, tapi juga perusak di bumi.
Kriteria pertama orang bertakwa adalah iman kepada yang ghaib — tapi kita justru jadi penganut materialisme, menyembah api hawa nafsu di kuil-kuil kapitalisme.